Blog Parenting untuk bunda yang bekerja, para wanita karir. Ketika memilih dan membuat keputusan untuk bekerja dan membina karir, saya menyadari tantangan yang akan dihadapi, bekerja diluar rumah, mendidik; merawat anak, serta peran domestik lainnya.Blog ini sekedar sharing untuk semua perempuan agar siap, tidak ragu membina karir sekaligus menjadi bunda.
Jumat, 12 Desember 2014
Menu Malam Natal : Grill Platter & Baguette Smoke Ham Mango
Menu malam Natal 2013 di ilhami oleh gaya hidup sehat ala hotwife kitchen. Makan malam Natal dengan menu : Grill Platter & Baguette Smoke Ham Mango. Grill Platter terdiri atas herbs Ribs, Germany Sausage and Rosemary Patatoes Wedges. Untuk menambah karbohidrat dan sekaligus sayuran dan buah, menu istimewa racikan yang di inspirasi oleh chicken mango wrap salah satu resto fast food, adalah Baguette Smoke Ham Spinach Mango Sandwich. Makan malam ditemani dengan fruity lemonade. Emh... yummy.
Minggu, 30 November 2014
Membangun Relasi (Dongeng bag. 2)
Kalau saja bunda tahu betapa
banyak manfaat dari dongeng, pasti dech bunda mau investasi untuk mendongeng. Coba
perhatikan ‘Kurang waktu dan kurang pede mendongeng itu adalah alasan semata
atau masalah. Kalau masalah berarti dapat di selesaikan, kalau alasan.. wah itu
butuh niat tuh.
Senin, 10 November 2014
45 Menit Menjelang Tidur.....
Dalam sebuah buku mengenai goal setting (mohon maaf bunda lupa
judul dan pengarang buku), kira-kira mengatakan bahwa kemampuan kita menyimpan
atau mengingat hal-hal secara bawah sadar, 10 kali lebih kuat adalah hal-hal
yang kita alami menjelang tidur, yaitu 45 menit sebelum kita tertidur. Meski
ditujukan untuk para professional mengenai bagaimana membentuk discipline
berpikir untuk planning hari berikutnya. Bunda berpikir praktis… kalau begitu
bukankah penting sekali mengisi hal, peristiwa terbaik setiap hari menjelang
saat anak tidur. Bukankah itulah yang tersimpan.
Maka setiap menjelang tidur, dalam
ritual mendongeng itulah pesan-pesan rohani, moral, dan karakter diceritakan
dalam bentuk dongeng. Ketika dongeng digantikan dengan acara chit chat, percakapan kami senantiasa
dua arah, bunda mendengar dan juga bertanya, pertanyaan seringkali mengarahkan
pada jawaban sikap dan tindakan yang diharapkan.
Mendongeng itu Mudah kok..
“Me, a 10 year old child is still listening to my mother for bedtime
stories. Why? The last 45 minutes before I sleep is when I chat with my mom,
about personal stuff I'm worried about or how to improve what I do. …………………This is really important, because the last 45 minutes we do are sucked 10 times
more to our conscious that what we do the rest of the day.” Kutipan dari blog anak-ku ditulis sekitar usia
10 thn.
Sepekan sebelum ngeblog, bunda
mencoba test apakah di usia 14 thn ini , masih ingat cerita-cerita dulu.
Ternyata cerita didengar dari bayi masih nangkring dengan sukses di memory
anak. Dan pernah dulu kejadian ini juga
buat bunda yakin dengan penting-nya mendongeng. Ketika berusia sekitar 8 thn,
sewaktu menonton ‘the pursuit of happyness’ salah satu adegan si anak ngomong
‘..seperti nenek yang terjebak banjir
dan tidak mau ditolong …’. Anak-ku langsung nyeletuk: ‘loh Ma, itu’kan cerita pastor tua yang waktu
banjir berdoa kepada Tuhan minta pertolongan ya, Tuhan kirim perahu mau
tolongin sampai 3x, tapi pastor-nya tidak mau’.
Bunda pikir, wah benar nih.. ternyata mendongeng saat menjelang tidur
powerfull. Sudah sangat lama diceritakan tapi masih dapat diingat dengan baik.
Rabu, 29 Oktober 2014
Menerapkan Aturan Sejak Batita (Rules of Mommy Vol 2 )
![]() |
| Nontan ke Dokter |
Here we go… aturan demi aturan
diterapkan seiring dengan bertambahnya usia anak. Aturan-aturan dimasukkan dalam jadwal kegiatan
dan merupakan bagian dari keseharian. Jadi tidak terasa ‘kan. (baca juga Rules of Mommy vol 1)
Tapi dari semua aturan yang ada,
saya paling suka aturan ‘mom’s miting’, tapi jarang banget dilakukan bahkan hanya
ingat pernah dilakukan sekali saja. Mom’s
miting adalah panggilan miting keluarga oleh
bunda, yang tidak boleh tidak hadir dan isinya tidak boleh dibantah, merupakan
aturan tertinggi dari semua aturan yang ada.
Ketika anak mulai usia diatas 7
bulan, salah satu kegiatan wajib dan pasti saya tanyakan adalah tadi siang/sore
baca cerita apa ? emh.. lebih tepatnya ajak
bayi-nya lihat, buka dan main buku. Buku
yang bunda suka banget, dan anak-nya juga suka. Adalah serial Nontan (dulu pernah ada terjemahannya, sekarang sulit sekali cari, kecuali yang masih original bahasa Jepang)
Melalui buku ini, anak-nya ngga
pernah takut ke dokter (berkat buku Nontan pergi ke dokter), anaknya mudah ‘toilet
training’ karena buku Nonton Pee di Pot,
dulu punya 7 buku-nya. Tidak tahu sekarang ada dimana.
Jumat, 24 Oktober 2014
Menerapkan Aturan Sejak Batita ? (Rules of Mommy Vol 1 )
Saya pikir gini... setiap orang
yang bekerja (kerja kantoran), mesti melalui proses interview, kadang di-test dan
setelah masuk kerja menjalani masa orientasi kerja. Untuk posisi tertentu yang penting bisa
melalui interview beberapa kali dengan orang yang berbeda. Bayangkan posisi penting apa yang bisa lebih
penting dari sebuah posisi menjaga dan merawat anak kita, posisi personal assistant bunda. Tapi sayang kita ngga punya
kesempatan untuk melakukan interview, ngga dapat memilih-milih calon apalagi pakai masa percobaan segala. Kadang bisa dapat
baby-sis saja sudah bersyukur. Maklum’lah
supply lebih sedikit dari demand.
Tapi aku ngga berkecil hati,
meski si nanny langsung masuk kerja
beberapa hari menjelang kelahiran, saya gunakan untuk tetap melakukan proses ‘interview’
dan orientasi. Melihat cara dia
membersihkan dan mempersiapkan peralatan bayi, ngobrol pengalaman kerja-nya, ngobrolin
cara-cara yang saya inginkan dalam membesarkan
anak dan kenapa saya ingin melakukan dengan cara tersebut.
Dari obrolan tersebut saya bisa ‘sense’ kemampuan-nya, cara pandangnya dan yang
penting dapat chemistry dengan dia. Puji
Tuhan waktu itu cukup okay dan menjabat posisi penting tersebut sampai anak
usia 6 thn. Setelahnya sudah tidak pakai baby
sis lagi.
Inilah 2 aturan sederhana, hahahah
mau sebut standar operation juga boleh dech, yang selalu menjadi bahan diskusi
dan obrolon kami selanjutnya.
Senin, 20 Oktober 2014
Melatih Kebiasaan Bayi-Anak (Nanny Pulkam di Tangisi Anak ?? )
Aku pernah dengar kalimat yang
bernada kesel dari seorang oma, kira-kira ngomongnya gini “ gimana sih anak
ini, mami-nya pergi ngga pernah nangis dan ngga apa-apa, si ensus.. (maksudnya
suster) pulang kampung anak-nya nangis-nangis mau ikut ”
Bunda pernah ngga sih ngalamin
situasi kayak gitu…..
Kalau aku sih ngga pernah tuh,
anaknya ngga perduli nanny-nya pergi, ngga akan dicari, atau mami-nya atau
papi-nya.
Dibuku Parenting (kalau ngga
salah ingat judulnya: 36 month by month growing..) bilang kalau manusia itu
makluk kebiasaan, jadi jika dari bayi sudah dilatih kebiasaan-kebiasaan untuk mandiri, maka jadilah anak akan tumbuh
demikian. Hal ini menjelaskan perbedaan anak-anak antar bangsa, sebab setiap
bangsa punya kebiasaan sesuai norma bangsa tersebut, paling kecilnya adalah
kebiasaan dalam rumah.
Kalau bunda sejak awal memutuskan
untuk bekerja di luar rumah, memang perlu membangun kebiasaan-kebiasaan yang
menurut aku sih perlu dan penting. Setelah
seharian bekerja, dan malamnya masih perlu
menjaga batita (apalagi waktu masih bayi – sepanjang malam ngga bakalan
bisa tidur nyenyak), kebanyakan kurang dapat konsentrasi bekerja dan cenderung
lelah di kantor. Kalau setiap hari lelah di kantor dan dirumah, tahu’lah apa
yang bakal terjadi, jadi emosian ‘kan.
Memilih Karir atau Urus Anak ?
Pilihan yang tidak mudah yach
antara memilih karir atau mengurus anak sendiri ? pada titik ketika harus memilih , kerap ada perasaan ‘tidak
fair’ terutama buat para bunda yang baru meniti karir dan karir sedang
menanjak, karena pas usia di mana karir menanjak, pas pula usia produksi anak.
Apapun pilihan-nya, menurut aku
sih sama mulia-nya, kalau memutuskan untuk mengurus domestik sendiri, kayaknya
seru juga…tapi aku ngga kompeten ngobrolin bunda yang memilih jurusan ini.
Well, kalau memilih untuk tetap
ber-karir apalagi buat yang berambisi menapak ke jajaran managerial, menurut
aku sih sebaiknya melakukan persiapan yang baik.
Dukungan Hubby
Baiknya sih make sure, diskusi dan obrolin segala
sesuatu yang bakalan terjadi jika kita
berkeinginan karir. Support jangan lip service , tapi perlu konsensus dalam
berbagi urus anak (misalnya nanti soal antarin ke dokter, ngajarin, cari
sekolah, cari les, ambil rapor, ke sekolahan , dlsb) bahwa urusan beginian
tuh perlu di back
up kalau pas lagi ngga bisa, jangan sampai urusan miting penting di kantor
jadi pemicu perang dalam rumah. Pusing dech… urusan ke dokter, bisa
salah-salahan. Bunda perlu tahu, sampai usia 6-7 tahun, baru agak bebas dari
berurusan dengan dokter anak.
Mempersiapkan diri sendiri, yang
ini lumayan banyak yang perlu di persiapkan:
Mentally siap tinggalin anak
Selama masa cuti kelahiran, jangan pakai prinsip aji mumpung,
mumpung cuti, puas-puasin diri pegang sendiri. Begitu kelar cuti, bayi ngga
siap ditinggal dan kita sendiri jadi
ngga tega. Jadi selama masa cuti dan
setiap hari bersama bayi, perhatikan dan rancang ‘pengen’nya gimana gede’in
anak.
Latih bayi sejak bayi…
Kalau dari hamil sudah mantap
untuk tetap bekerja dan hubby mendukung penuh, bicarakan pekerjaan dan kenalkan
lingkungan kerja kita ke jabang bayi di usia 6 bulanan (serius.. J). Dari lahir dan semasa cuti, latih
kebiasaan-kebiasaan bayi (baca juga : nanny
pulkam ditangisi anak )
Jalin relasi dan komunikasi
dengan Nanny..
Jika bunda akan menggunakan jasa
baby sitting, baiknya sebelum lahiran, baby
sister sudah kerja duluan minimal
beberapa hari sebelum lahiran jadi bisa dapat chemistry
dan tahu latar belakangnya, plus
yang penting banget, sharing keinginan dan cara bunda. (baca : rules of Mommy)
Sulit percaya sama Nanny..
Nah yang ini sering banget
terjadi untuk para bunda yang ngga dapat nanny
yang mumpuni, apalagi trauma dengan berbagai hal. Dijamin dech ngga tenang
kerja. Karena itu mengenal dan ngobrol penting sebelum lahiran. Tanya detail
pengalaman sebelumnya & tanya pendapat-pendapatnya mengenai beberapa hal
yang ingin kita terapkan. Kalau ngga merasa cocok, masih ada waktu untuk
mengganti atau mencari yang lain.
Belajar jadi Ortu…
Banyak keahlian yang bisa
didapatkan dengan sekolah, kursus,
pelatihan dan rajin baca.
Untung-nya sekarang ini skill menjadi ortu juga sudah
tersedia banyak buku, seminar/workshop parenting. Ikut dech penting loh belajar jadi ortu.
Being Happy Working Mom,
Semoga Bermanfaat.
Langganan:
Komentar (Atom)

