Minggu, 30 November 2014

Membangun Relasi (Dongeng bag. 2)



Menurut Kak Agus, salah satu pakar dongeng Indonesia, dalam bukunya “Mendongeng Bareng Kak Agus DS yukk “, mengatakan bahwa alasan ortu ngga mendongeng umumnya ‘kurang memiliki waktu’ karena kesibukan mereka. Ya, make sense banget, apalagi untuk bunda yang kerja dan hidup dikota besar yang seringkali pulang bermacet-ria dan sudah lelah.  Kalau yang sering bunda dengar dari para bunda yang tidak bekerja, alasan tidak mendongeng ‘ ngga ngerti cara mendongeng atau sering bilang ngga pede

Kalau saja bunda tahu betapa banyak manfaat dari dongeng, pasti dech bunda mau investasi untuk mendongeng. Coba perhatikan ‘Kurang waktu dan kurang pede mendongeng itu adalah alasan semata atau masalah. Kalau masalah berarti dapat di selesaikan, kalau alasan.. wah itu butuh niat tuh.


Seperti ditulisan bagian pertama, mendongeng itu mudah karena cukup baca saja dari buku cerita, atau pakai alat bantu boneka, atau cerita saja secara lisan (nah yang bagian dongeng tanpa pakai buku inilah  sering dibayangin sama bunda adalah ber-acting-acting meniru suara tertentu… jadinya ngga pede dech. Padahal kalau lagi ngobrol atau gossip sama teman, pasti seru suaranya, bisa tinggi-rendah, bisa pelan-cepat, bisa bisik-bisik, bisa tiru’in suara cempreng tetangga sebelah). Kira-kira mendongeng itu kayak lagi gossip seru aja. Tanpa disadari intonasi dan tempo ngikut kok, cerita saja tanpa beban embel-embel ‘mendongeng’

Mungkin saking sering tiap malam melihat-lihat buku (dan siang hari juga salah satu kegiatan ber-main adalah baca buku), Bunda merasa anaknya cepat sekali bisa baca, dan semua buku dibaca habis tuntas dalam waktu yang tidak begitu lama begitu bisa baca. Mungkin motivasinya terbentuk sejak hanya bisa lihat-lihat gambar. Nah sejak sudah bisa baca sendiri, bedtime story ngga baca bersama lagi, tapi kebanyakan bunda  cerita  ulang dengan lisan, ini-pun sering banget anaknya ngebetulin cerita bunda, maklum’lah mana hafal detail cerita yach…

Kehabisan dongeng, bunda benar-benar kehabisan bahan dongeng ketika anak sekitar kelas 4, akhirnya anaknya ngusulin bedtime story diganti dengan ‘chit chat time’ , mungkin anaknya bosan kali yach dengar dongeng yang itu lagi, itu lagi. Maka ritual dongeng berganti dengan mengobrol, kami ngobrol soal sekolah, soal teman-nya, soal guru, soal game, soal makanan , apa saja kejadian yang menarik dan membosankan hari tersebut. Kegiatan ngobrol menjelang tidur berhenti ketika kelas 6. Namun obrolan sampai saat ini tetap berjalan di meja makan saat makan malam.

Bunda yakin sekali, relasi dengan anak tidak bisa tiba-tiba saja terjadi, kalau ingin bisa ngobrol dan menjadi teman anak, mungkin para bunda perlu memulai dan membangun relasi intim melalui dongeng. Lagi pula, seperti ditulis di awal, sangat penting menjelang tidur, si anak mendapatkan pengalaman terpenting untuk hidupnya karena seluruh informasi diterima 45 menit menjelang tidur konon 10 kali lebih kuat tertanam dalam bawah sadar anak.

Ada 1001 alasan dan manfaat penting dalam mendongeng, inilah investasi terbaik dalam membangun relasi dengan anak, membentuk karakter, mengajari moralitas tanpa mengurui, membangun kebiasaan membaca, dlsb. Ayo mulai’lah mendongeng…

Being Happy Working Mom,
Semoga Bermanfaat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TerimaKasih komentar Anda.