Senin, 20 Oktober 2014

Melatih Kebiasaan Bayi-Anak (Nanny Pulkam di Tangisi Anak ?? )

Aku pernah dengar kalimat yang bernada kesel dari seorang oma, kira-kira ngomongnya gini “ gimana sih anak ini, mami-nya pergi ngga pernah nangis dan ngga apa-apa, si ensus.. (maksudnya suster) pulang kampung anak-nya nangis-nangis mau ikut

Bunda pernah ngga sih ngalamin situasi kayak gitu…..

Kalau aku sih ngga pernah tuh, anaknya ngga perduli nanny-nya pergi, ngga akan dicari, atau mami-nya atau papi-nya.  
Dibuku Parenting (kalau ngga salah ingat judulnya: 36 month by month growing..) bilang kalau manusia itu makluk kebiasaan, jadi jika dari bayi sudah dilatih kebiasaan-kebiasaan  untuk mandiri, maka jadilah anak akan tumbuh demikian. Hal ini menjelaskan perbedaan anak-anak antar bangsa, sebab setiap bangsa punya kebiasaan sesuai norma bangsa tersebut, paling kecilnya adalah kebiasaan dalam rumah.

Kalau bunda sejak awal memutuskan untuk bekerja di luar rumah, memang perlu membangun kebiasaan-kebiasaan yang menurut aku sih perlu dan penting.  Setelah seharian bekerja, dan malamnya masih perlu  menjaga batita (apalagi waktu masih bayi – sepanjang malam ngga bakalan bisa tidur nyenyak), kebanyakan kurang dapat konsentrasi bekerja dan cenderung lelah di kantor. Kalau setiap hari lelah di kantor dan dirumah, tahu’lah apa yang bakal terjadi, jadi emosian ‘kan.

Ini yang dulu saya lakukan untuk melatih bayi dan anak-ku mandiri :
1.Kebiasaan Tidur
Pada waktu usia bayi 0-7 bulan, suasana tidur malam sudah diperkenalkan dan ritual dijalankan untuk membantu baby . Jika malam, semua horden ditutup, lampu kecil dinyalakan dan lagu lullaby di stel. Lalu membisikan doa malam.   Waktu tidur di siang hari, horden  jendela tetap di buka dan cahaya masuk (atau kamar tetap terang saat siang).
Dengan demikian bayi belajar mengenali waktu , siang dan malam.
Jika anak-nya rewel atau menangis, bayi tidak boleh di gendong lama dan di empok-2 sampai tidur. Nanny hanya boleh gendong sebentar atau empok-2 sebentar untuk membuat bayi  nyaman dan tahu ada orang yang jaga’in, di usia  ini boneka-boneka kain dan guling dibutuhkan untuk ditaruh sekitar bayi untuk membuatnya nyaman.

Di atas 7 bulanan, ritual mulai dtambahkan dengan dongeng, inilah bagian saya dan suami (tapi nyaris 80% saya yang mendongeng).
Jadi anak  terlatih untuk tidur tanpa harus ada nanny, bahkan si nanny menjadi kurang  bahkan ngga penting, sebab relasi kami sangat dekat dan kebiasaan  suasana ‘sudah jam-nya tidur’ sudah tercipta .
Dan yang penting, ketika nanny tidak ada, saya tidak pernah kesulitan ‘nidurin’ anak.

2. Kebiasaan Makan
Bangku Bayi  untuk usia  0-6/7 bulan 
Saya paling ngga bisa dech ngelihat anak-anak yang lari sana, lari sini, dan mesti di kejar-kejar untuk disuapi. Jadi  saya bangun kebiasaan makan,  sejak bayi minum susu  harus duduk di bangku bayi, jadi minum susu tidak boleh gendong (kecuali hanya  dengan aku saja).    Bahkan termasuk saat snack makan buah, makan biscuit, makan-nya harus duduk. Ketika sudah usia batita, bangku bayi sudah diganti dengan kursi anak.
Tantangan banget menjelang sore saat snack time, anak sering di ajak main ke taman. Saya memang melakukan komromi, (masa harus angkut kursi) tapi esensi ngga boleh dilanggar sama si Nanny. Ketika makan harus  tetap duduk, kalau main tidak boleh sekalian di suapi, saat bermain, bermain dulu.  
Hal ini juga berlaku ketika anak saya ikut sekolah minggu, tidak ada istilah anak-nya disuapi didalam ruang kelas sekolah minggu. Kebiasaan makan harus duduk di kursi makan berlanjut terus. Maka kami tidak pernah pusing dengan harus menyuapi anak, kalau mau makan, dudukin aja dan kasih mainan. Tidak pakai acara kejar sana-sini. Ketika makan diluar – di resto manapun, anak-ku anteng duduk makan dan main.


3.Kebiasaan Makan apa saja
Saya memang pemakan segala alias omnivora asli dech… enaknya adalah kalau bepergian, mudah cari makan dan  ngga ngerepotin.  Untuk menghindari keribetan kalau bepergian harus menyediakan makanan  khusus,  aku kasih makanan jenis apa saja dengan berbagai rasa. Dan makanan utama diperkenalkan berbagai macam karbohidrat. Jadi dari kecil ke Negara mana saja cenderung tidak ada masalah soal makanan. Hanya makan roti bisa, makan mie bisa, makan kentang, aneka jenis pasta, bisa.
Bagaimana-pun setiap orang punya preferensi dari sono-nya,  jadi tetap saja ada jenis buah dan makanan yang tidak disukai. Tapi ini memang natural dari sononya.  

4. Break Relasi
Kenapa sih minum susu ngga boleh di gendong, tidur ngga boleh di empok. Itu adalah cara untuk men’break’ relasi intim antara nanny dengan bayi. Bayangin donk, sibayi seharian sama si nanny, kita hanya beberapa jam. Jelas bayi lebih kenal bau  dan wajah di nanny daripada kita.  Untuk menghindari situasi ini, perlu dibuatkan ‘jarak’. Sejak minum susu dan makan, harus  duduk ,  nanni pegangin botol dan berhadapan  dengan bayi, jadi ada jarak. Kalau di gendong, kan relasi ‘heart beat’ ada di nanny, terjadi dekapan dan sangat dekat komunikasi dengan bayi.

Jadi minum susu di gendong hanya boleh dilakukan sama kita saja, maka relasi intim kita dengan bayi terjaga. Dan membantu bayi untuk mengenali mana yang bunda-nya dan mana yang nanny, karena ‘kedekatan’  face to face, heart beat to heart beat tetap ada di mommy.

5. Kuantitas atau kualitas
Aku sering dengar pembelaan diri kualitas dengan anak lebih penting dari kuantitas  (termasuk aku diawal-awal berpikir demikian). Aku juga sering membela diri ‘ anak-anak yang di jaga sendiri sama bunda-nya, selain lebih cengeng, kayak perangko sama mommy’nya’ .

Tapi cara berpikir yang  lebih tepat adalah ‘tidak ada kualitas tanpa kuantitas yang cukup’ . Bagaimana-pun kita yang bekerja memang ngga punya kemewahan memiliki kuantitas sepanjang hari bersama bayi –anak kita. Tapi dengan bekal cara pandang terebut, maka saya usahakan secara waktu ada cukup dengan bayi. Maka setiap Jum’at malam sampai Minggu sore, setiap pekan, saya liburkan si nanny. Selain nanny-nya senang, saya setiap pekan tetap full jaga sendiri.

Saat jaga sendiri inilah, saya bisa tetap monitoring habit anak… apakah si nanny menjalankan atau tidak. Karena ini pula, si bayi juga terbiasa di rawat mommy dan nanny.

Well, begitulah anak-ku tidak pernah  nempel dengan nanny, or mommy or papi, jadi salah satu dari kami bepergian, bisa tenang. Dan yang jaga juga tenang. Anak-nya ngga nyari’in yang lagi bepergian.

Being Happy Working Mom,
Semoga Bermanfaat.

Kursi bayi dan anak adalah salah satu investasi peralatan yang penting, apalagi bangku seperti ini dapat digunakan untuk beberapa anak. Jadi beli sekali dapat digunakan cukup lama. Tapi belilah yang bagus kualitas-nya. Selain perlu mempertimbangkan keamanan, kenyamanan dan daya tahan pakai. Menurut saya ini adalah salah satu yang dapat dipertimbangkan: 

selain kursi, kereta dorong dapat dijadikan bangku bayi - jadi tidak perlu beli banyak. Kereta dorong dijadikan double function
CHICCO Echo Stroller Turquoise [P1179310]
CHICCO Echo Stroller Turquoise [P1179310]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TerimaKasih komentar Anda.