Kapan waktu yang tepat untuk
mengedukasi seks ke pada anak-anak kita ? Jawabannya pasti bervariasi, atau
bahkan ada yang tidak pernah terpikirkan
untuk mendidik hal yang satu ini. Dalam
suatu kesempatan ngobrol dengan beberapa orang tua mengenai edukasi seks kepada
anak-anak, umumnya ortu memang cukup sulit untuk menjawab pertanyaan anak-anak
mereka (yang kelas 3 SD juga sudah ada yang bertanya: bagaimana terjadinya
bayi). Umumnya mereka mengerti ada bayi dalam perut mami dan setelah sembilan
bulan akan dikeluarkan. Tapi pertanyaan besar bagaimana hal ini terjadi dan
keluar dari mana ? sangat sulit untuk
dijawab. Ada pula anak laki-laki yang bertanya kenapa penis dia bisa keras
sendiri ? bahkan ada anak kelas 4 SD bertanya apa artinya diperkosa, apakah di
elus itu sama dengan di perkosa ?
Salah Bereaksi
Mendapat pertanyaan-pertanyaan
tersebut, seringkali ortu beraksi ‘panik’ dan curiga, kok anak aku tahu
begitu’an sih ? darimana mereka tahu ?
Reaksi inilah yang melumpuhkan
ortu untuk memberikan respon yang wajar dan menjelaskan dengan seharusnya. Ortu
lupa bahwa ‘begituan’ ada dipikiran si ortu, anak-anak bertanya karena
keingin-tahuan mereka, sama halnya ketika mereka bertanya kenapa kalau batuk
ngga boleh makan coklat ?
Bisa dimaklumi masih banyak orang tua yang merasa risih , tabu, berbicara soal seks, dan
berpikir biarin aja, nanti juga mereka tahu sendiri.
Buat bunda yang bekerja, jangan
sampai anak kita belajar dari internet, belajar dari teman-nya yang sama tidak
tahu-nya, atau sekedar mendengar sex education dari sekolah. Jadi bersikap
wajar dan berikan penjelasan dengan percaya diri.
Menghindarkan anak dari pelecehan
seksual
Ketika anak saya bayi, beberapa
kejadian mengenaskan mengenai pelecehan pada anak-anak sempat menjadi heboh. Entah
benar atau tidak beritanya sebab tidak ada yang terkuak seperti diberitakan
pada kasus salah satu sekolah internasional belakangan ini. Mendengar hal-hal
tersebut, sebagai bunda yang bekerja dan lima hari full menyerahkan perawatan
bayi ke baby sister, tentu khawatir.
Karena itu, bunda sudah mendidik
masalah seksualitas sejak anak masih batita. Sejak bayi, setiap akhir pekan bunda merawat dan
memandikan bayi sendiri, di saat inilah
periksa kondisi fisik bayi
seluruh badan dilakukan terutama bunda akan periksa area genital dengan baik. Ketika usia sekitar 2- 2,5 tahun meski
belum bisa ngomong, bunda sudah beritahukan bahwa ‘lolo’nya tidak boleh ada
yang pegang-pegang.
(Lolo penyebutan penis oleh
babysister-nya, ngga tahu bahasa mana, karena saya larang pakai kata ‘burung’ , agar
nanti anak ngga bingung antara arti penis dan binatang burung)
Bahkan, sejak bayi umur delapan
bulan, bunda sudah ajarkan tidak boleh ada yang cium bibirnya selain bunda dan
papa-nya. Lewat berbagai buku cerita dan gerakan permainan, saya menanamkan ke anak-ku bahwa selain mama dan papa, yang lain hanya boleh cium kening dan pipi.
Terhadap baby sister dan mba,
mencium anak adalah salah satu aturan keluarga yang harus diperhatikan dan dalam
berbagai kesempatan ngobrol menjelaskan soal penularan penyakit kenapa anak
saya dilarang di cium.
Ketika mulai usia KB – Kelompok Bermain,
Bunda juga mengajarkan si anak ngga boleh pegang payudara si mba dan
babysister. Secara kebetulan, bunda pernah melihat anak-anak yang memukul &
mencolek payudara si Mba. Karena si anak waktu mau pegang payudara Mba, dan si Mba reflex berteriak dan lari
menghindar, si anak tambah senang dan justru semakin tertarik. Bukan salah si
anak, karena dia tidak tahu kenapa mba-nya bereaksi aneh ketika dipegang
payudara di banding dengan pegang tangan.
Bunda menggunakan gambar breast feeding untuk maksud ini, dan
tentu saja menjelaskan juga reaksi dan penjelasan yang benar yang harus diberikan jika si anak lakukan hal
ini kepada mba dan nanny.
Bunda berusaha untuk mengajari
anak mengerti area pribadi-nya yang beda dengan anggota tubuh lainnya, agar dia
mampu untuk melindungi dirinya dan juga respect to others. Kita ngga pernah tahu
kapan anak kita menghadapi para peleceh yang sesungguhnya banyak dari
orang-orang terdekat.
Being Happy Working Mom,
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TerimaKasih komentar Anda.