Minggu, 11 Januari 2015

Edukasi Seks sejak Dini : Mom, Seks itu apa ? (Menghindari anak dari pelecehan seksual)

Kapan waktu yang tepat untuk mengedukasi seks ke pada anak-anak kita ? Jawabannya pasti bervariasi, atau bahkan  ada yang tidak pernah terpikirkan untuk mendidik hal yang satu ini.  Dalam suatu kesempatan ngobrol dengan beberapa orang tua mengenai edukasi seks kepada anak-anak, umumnya ortu memang cukup sulit untuk menjawab pertanyaan anak-anak mereka (yang kelas 3 SD juga sudah ada yang bertanya: bagaimana terjadinya bayi). Umumnya mereka mengerti ada bayi dalam perut mami dan setelah sembilan bulan akan dikeluarkan. Tapi pertanyaan besar bagaimana hal ini terjadi dan keluar dari mana ?  sangat sulit untuk dijawab. Ada pula anak laki-laki yang bertanya kenapa penis dia bisa keras sendiri ? bahkan ada anak kelas 4 SD bertanya apa artinya diperkosa, apakah di elus itu sama dengan di perkosa ?

Salah Bereaksi
Mendapat pertanyaan-pertanyaan tersebut, seringkali ortu beraksi ‘panik’ dan curiga, kok anak aku tahu begitu’an sih ? darimana mereka tahu ? 
Reaksi inilah yang melumpuhkan ortu untuk memberikan respon yang wajar dan menjelaskan dengan seharusnya. Ortu lupa bahwa ‘begituan’ ada dipikiran si ortu, anak-anak bertanya karena keingin-tahuan mereka, sama halnya ketika mereka bertanya kenapa kalau batuk ngga boleh makan coklat ?
Bisa  dimaklumi masih banyak orang tua yang  merasa risih , tabu, berbicara soal seks, dan berpikir biarin aja, nanti juga mereka tahu sendiri.

Buat bunda yang bekerja, jangan sampai anak kita belajar dari internet, belajar dari teman-nya yang sama tidak tahu-nya, atau sekedar mendengar sex education dari sekolah. Jadi bersikap wajar dan berikan penjelasan dengan percaya diri.

Menghindarkan anak dari pelecehan seksual
Ketika anak saya bayi, beberapa kejadian mengenaskan mengenai pelecehan pada anak-anak sempat menjadi heboh. Entah benar atau tidak beritanya sebab tidak ada yang terkuak seperti diberitakan pada kasus salah satu sekolah internasional belakangan ini. Mendengar hal-hal tersebut, sebagai bunda yang bekerja dan lima hari full menyerahkan perawatan bayi ke baby sister, tentu khawatir.

Karena itu, bunda sudah mendidik masalah seksualitas sejak anak masih batita. Sejak bayi,  setiap akhir pekan bunda merawat dan memandikan bayi sendiri, di saat inilah  periksa kondisi fisik bayi  seluruh badan dilakukan terutama bunda akan periksa area genital dengan baik. Ketika usia sekitar 2- 2,5 tahun meski belum bisa ngomong, bunda sudah beritahukan bahwa ‘lolo’nya tidak boleh ada yang pegang-pegang.
(Lolo penyebutan penis oleh babysister-nya, ngga tahu bahasa mana,  karena saya larang pakai kata ‘burung’ , agar nanti anak ngga bingung antara arti penis dan binatang burung)

Bahkan, sejak bayi umur delapan bulan, bunda sudah ajarkan tidak boleh ada yang cium bibirnya selain bunda dan papa-nya. Lewat berbagai buku cerita dan gerakan permainan, saya menanamkan ke anak-ku bahwa selain mama dan papa, yang lain hanya boleh cium kening dan pipi.
Terhadap baby sister dan mba, mencium anak adalah salah satu aturan keluarga yang harus diperhatikan dan   dalam berbagai kesempatan ngobrol menjelaskan soal penularan penyakit kenapa anak saya dilarang di cium.

Ketika mulai usia KB – Kelompok Bermain, Bunda juga mengajarkan si anak ngga boleh pegang payudara si mba dan babysister. Secara kebetulan, bunda pernah melihat anak-anak yang memukul & mencolek payudara si Mba. Karena si anak waktu mau pegang payudara  Mba, dan si Mba reflex berteriak dan lari menghindar, si anak tambah senang dan justru semakin tertarik. Bukan salah si anak, karena dia tidak tahu kenapa mba-nya bereaksi aneh ketika dipegang payudara di banding dengan pegang tangan.
Bunda menggunakan gambar breast feeding untuk maksud ini, dan tentu saja menjelaskan juga reaksi dan penjelasan yang benar  yang harus diberikan jika si anak lakukan hal ini kepada mba dan nanny.

Bunda berusaha untuk mengajari anak mengerti area pribadi-nya yang beda dengan anggota tubuh lainnya, agar dia mampu untuk melindungi dirinya dan juga respect to others. Kita ngga pernah tahu kapan anak kita menghadapi para peleceh yang sesungguhnya banyak dari orang-orang terdekat.

Being Happy Working Mom,
Semoga bermanfaat.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TerimaKasih komentar Anda.