Rabu, 29 Oktober 2014

Menerapkan Aturan Sejak Batita (Rules of Mommy Vol 2 )

 Nontan ke Dokter 
Here we go… aturan demi aturan diterapkan seiring dengan bertambahnya usia anak. Aturan-aturan dimasukkan dalam jadwal kegiatan dan merupakan bagian dari keseharian. Jadi tidak terasa ‘kan. (baca juga Rules of Mommy vol 1)
Tapi dari semua aturan yang ada, saya paling suka aturan ‘mom’s miting’, tapi jarang banget dilakukan bahkan hanya ingat pernah dilakukan sekali saja.  Mom’s miting adalah  panggilan miting keluarga oleh bunda, yang tidak boleh tidak hadir dan isinya tidak boleh dibantah, merupakan aturan tertinggi dari semua aturan yang ada.

Ketika anak mulai usia diatas 7 bulan, salah satu kegiatan wajib dan pasti saya tanyakan adalah tadi siang/sore baca cerita apa ? emh.. lebih tepatnya  ajak bayi-nya lihat, buka dan main buku.  Buku yang bunda suka banget, dan anak-nya juga suka. Adalah serial Nontan (dulu pernah ada terjemahannya, sekarang sulit sekali cari, kecuali yang masih original bahasa Jepang)
Melalui buku ini, anak-nya ngga pernah takut ke dokter (berkat buku  Nontan pergi ke dokter), anaknya mudah ‘toilet training’  karena buku Nonton Pee di Pot, dulu punya 7 buku-nya. Tidak tahu sekarang ada dimana.

Jumat, 24 Oktober 2014

Menerapkan Aturan Sejak Batita ? (Rules of Mommy Vol 1 )

Saya pikir gini... setiap orang yang bekerja (kerja kantoran), mesti melalui proses interview, kadang di-test dan setelah masuk kerja menjalani masa orientasi  kerja. Untuk posisi tertentu yang penting bisa melalui interview beberapa kali dengan orang yang berbeda.  Bayangkan posisi penting apa yang bisa lebih penting dari sebuah posisi menjaga dan merawat anak kita, posisi personal assistant bunda.  Tapi sayang kita ngga punya kesempatan untuk melakukan interview, ngga  dapat memilih-milih calon apalagi pakai  masa percobaan segala. Kadang bisa dapat baby-sis saja sudah bersyukur. Maklum’lah  supply lebih sedikit dari demand.
Tapi aku ngga berkecil hati, meski si nanny  langsung masuk kerja beberapa hari menjelang kelahiran, saya gunakan untuk tetap melakukan proses ‘interview’ dan  orientasi. Melihat cara dia membersihkan dan mempersiapkan peralatan bayi, ngobrol pengalaman kerja-nya, ngobrolin   cara-cara yang saya inginkan dalam membesarkan anak dan kenapa saya ingin melakukan dengan cara tersebut.
Dari obrolan tersebut saya bisa ‘sense’  kemampuan-nya, cara pandangnya dan yang penting dapat chemistry dengan dia. Puji Tuhan waktu itu cukup okay dan menjabat posisi penting tersebut sampai anak usia 6 thn. Setelahnya sudah tidak pakai baby sis lagi.

Inilah 2 aturan sederhana, hahahah mau sebut standar operation juga boleh dech, yang selalu menjadi bahan diskusi dan obrolon kami selanjutnya.

Senin, 20 Oktober 2014

Melatih Kebiasaan Bayi-Anak (Nanny Pulkam di Tangisi Anak ?? )

Aku pernah dengar kalimat yang bernada kesel dari seorang oma, kira-kira ngomongnya gini “ gimana sih anak ini, mami-nya pergi ngga pernah nangis dan ngga apa-apa, si ensus.. (maksudnya suster) pulang kampung anak-nya nangis-nangis mau ikut

Bunda pernah ngga sih ngalamin situasi kayak gitu…..

Kalau aku sih ngga pernah tuh, anaknya ngga perduli nanny-nya pergi, ngga akan dicari, atau mami-nya atau papi-nya.  
Dibuku Parenting (kalau ngga salah ingat judulnya: 36 month by month growing..) bilang kalau manusia itu makluk kebiasaan, jadi jika dari bayi sudah dilatih kebiasaan-kebiasaan  untuk mandiri, maka jadilah anak akan tumbuh demikian. Hal ini menjelaskan perbedaan anak-anak antar bangsa, sebab setiap bangsa punya kebiasaan sesuai norma bangsa tersebut, paling kecilnya adalah kebiasaan dalam rumah.

Kalau bunda sejak awal memutuskan untuk bekerja di luar rumah, memang perlu membangun kebiasaan-kebiasaan yang menurut aku sih perlu dan penting.  Setelah seharian bekerja, dan malamnya masih perlu  menjaga batita (apalagi waktu masih bayi – sepanjang malam ngga bakalan bisa tidur nyenyak), kebanyakan kurang dapat konsentrasi bekerja dan cenderung lelah di kantor. Kalau setiap hari lelah di kantor dan dirumah, tahu’lah apa yang bakal terjadi, jadi emosian ‘kan.

Memilih Karir atau Urus Anak ?

Pilihan yang tidak mudah yach antara memilih karir atau mengurus anak sendiri ?  pada titik  ketika harus memilih , kerap ada perasaan ‘tidak fair’ terutama buat para bunda yang baru meniti karir dan karir sedang menanjak, karena pas usia di mana karir menanjak, pas pula usia produksi anak.

Apapun pilihan-nya, menurut aku sih sama mulia-nya, kalau memutuskan untuk mengurus domestik sendiri, kayaknya seru juga…tapi aku ngga kompeten ngobrolin bunda yang memilih jurusan ini.

Well, kalau memilih untuk tetap ber-karir apalagi buat yang berambisi menapak ke jajaran managerial, menurut aku sih sebaiknya melakukan persiapan yang baik.   

Dukungan Hubby 
Baiknya sih make sure, diskusi dan obrolin segala sesuatu  yang bakalan terjadi jika kita berkeinginan  karir. Support jangan lip service , tapi perlu konsensus dalam berbagi urus anak (misalnya nanti soal antarin ke dokter, ngajarin, cari sekolah, cari les, ambil rapor, ke sekolahan , dlsb) bahwa urusan beginian tuh   perlu di back up kalau pas lagi ngga bisa, jangan sampai urusan miting penting di kantor jadi pemicu perang dalam rumah. Pusing dech… urusan ke dokter, bisa salah-salahan. Bunda perlu tahu, sampai usia 6-7 tahun, baru agak bebas dari berurusan dengan dokter anak.

Mempersiapkan diri sendiri, yang ini lumayan banyak yang perlu di persiapkan:

Mentally siap tinggalin anak
Selama masa cuti  kelahiran, jangan pakai prinsip aji mumpung, mumpung cuti, puas-puasin diri pegang sendiri. Begitu kelar cuti, bayi ngga siap ditinggal dan kita sendiri  jadi ngga tega.  Jadi selama masa cuti dan setiap hari bersama bayi, perhatikan dan rancang ‘pengen’nya gimana gede’in anak.

Latih bayi sejak bayi…
Kalau dari hamil sudah mantap untuk tetap bekerja dan hubby mendukung penuh, bicarakan pekerjaan dan kenalkan lingkungan kerja kita ke jabang bayi di usia 6 bulanan (serius..  J).  Dari lahir dan semasa cuti, latih kebiasaan-kebiasaan bayi  (baca juga : nanny pulkam ditangisi anak )

Jalin relasi dan komunikasi dengan Nanny..
Jika bunda akan menggunakan jasa baby sitting, baiknya sebelum lahiran, baby sister  sudah kerja duluan minimal beberapa hari sebelum lahiran jadi bisa  dapat chemistry  dan tahu latar belakangnya, plus yang penting banget, sharing keinginan dan cara bunda. (baca : rules of Mommy)

Sulit percaya sama Nanny..
Nah yang ini sering banget terjadi untuk para bunda yang ngga dapat nanny yang mumpuni, apalagi trauma dengan berbagai hal. Dijamin dech ngga tenang kerja. Karena itu mengenal dan ngobrol penting sebelum lahiran. Tanya detail pengalaman sebelumnya & tanya pendapat-pendapatnya mengenai beberapa hal yang ingin kita terapkan. Kalau ngga merasa cocok, masih ada waktu untuk mengganti atau mencari yang lain.

Belajar jadi Ortu…
Banyak keahlian yang bisa didapatkan dengan sekolah, kursus,  pelatihan dan rajin baca.  Untung-nya sekarang ini  skill menjadi ortu juga sudah tersedia  banyak  buku, seminar/workshop parenting. Ikut dech penting loh belajar jadi ortu. 

Being Happy Working Mom,
Semoga Bermanfaat.