| Liburan Paradise, Fun, Good Food, & Good Friends, |
Dalam suatu kesempatan ngobrol
dengan teman-teman yang kebanyakan laki-laki saat libur ke Halmahera dengan kapal ‘Liburan
Paradise’ , saya melontarkan pertanyaan survey
kecil-kecilan, kebetulan baru selesai baca buku yang cukup provokatif untuk
perempuan ‘Lean In’-nya Sheryl Sanberg .
Saya bertanya : “apakah kamu
ngasih istri-mu kerja ?” sebetulnya sih
aku sudah tahu jawaban yang akan diberikan, karena kalau pertanyaan ini
dilontarkan , boleh dikatakan 90% jawaban para suami kurang lebih bernada sama.
Tapi saya tetap saja kecewa mendengarnya.
Mungkin saya berharap yang 10% benar-benar memberikan jawaban yang ingin saya
dengar.
“Kalau saya ngga mampu (secara
financial maksudnya), yach silakan bekerja, tapi semua saya penuhin, ngapa’in
lah kerja “
“Boleh sihhh kerja, asal tahu diri mesti bisa
bagi waktu jaga anak (atau boleh kerja asal anak & suami jangan
ditelantarin..)
“Saya mampu kok membiayai semua
kebutuhan RT, tapi kalau tetap ingin kerja silakan, tapi ingat jaga anak”
OMG, egois banget ngga sih, memberikan
pilihan kerja atau tidak kepada istri dengan term & condition. Dan sesungguhnya itu bukan sebuah pilihan
yang setara. “Expectations will not be
set by gender but by personal passion, talents, and interests.’
Memang sulit, Prof. Joan Williams
sebut ‘gender wars’ antara bunda yang kerja diluar dengan yang ngurus domestik,
karena adanya social ideals: The ideal worker
is defines as someone always available for work, and the ‘good mother’ is
defined as always available to her children. So ideal-worker women need to
prove that. So you have each group of women judging the other.
![]() |
| Woman Can't Read Map |
Norma dalam masyarakat (jangankan
disini, si mba Sheryl sebagai COO facebook di Amrik saja merasakan), bahwa ada
ketidak-setaraan untuk bunda yang bekerja, terutama ketika berurusan dengan
kehamilan, melahirkan dan mengurus anak. Perempuan yang lebih sibuk bekerja
tetap sulit diterima. Laki-laki yang ngurus rumah juga sulit diterima. Maka
issue-nya bukan pada feminisme pekerjaan-karir, tapi feminisme dalam berumah-tangga.
Adanya rasa bebas, bukan rasa bersalah ketika tidak bisa mengambil rapor anak,
tidak dicibir sebagai Ibu yang tidak becus ngurus anak, semakin tinggi posisi
perempuan dalam karir kepemimpinan semakin berat beban sosial tersebut. Rasa & tanggung jawab yang demikian tidak ada pada level pucuk pimpinan manapun untuk laki-laki.
Maka jawaban para bangsa suami di
atas, semestinya tidak boleh ada term
& condition.
Saya pikir, pemikiran yang mungkin cukup berbahaya pada feminisme
dalam berumah tangga untuk para perempuan, adalah pilihan untuk membentuk
keluarga dengan sesama perempuan. Pilihan
ini mengeliminasi peran gender dan patriarkhi, peran dalam rumah tangga
menjadi berimbang dalam mengurus
keluarga dan domestik. Aih…betapa bahaya pemikiran ini.
Sheryl menulis dan berharap : true equality is long overdue and will be
achieved only when more women rise to the top of every government and every
industry. Then we have to do the hard work of getting there. …… Until women
have supportive employers and colleagues as well as partners who share family
responsibilities, they don’t have real choice. And until men are fully
respected for contributing inside the home, they don’t have real choice either.
Equal opportunity is not equal unless everyone receives the encouragement that
makes seizing those opportunities possible.
Saya pribadi mendukung harapan
tersebut tapi amat tidak yakin bisa dalam abad ini. Sebagai penganut iman
katolik, saya taat absolut bahwa jabatan Paus apostolik dari rasul Petrus ber-gender
“laki-laki’ ; saya juga taat absolut perayaan Ekaristi hanya dipersembahkan Imam ‘laki-laki’.
Bahkan mungkin kalau ada biarawati yang ingin mengubah tradisi ketaatan ini,
saya pasti jadi barisan yang membela ‘ketaatan absolut ini’. Lagi pula sebebas
apapun saya menulis, saya ‘tunduk’ pada suami (as Bible said)
Tribute to all, my ‘Male’ friends.
Special to Top FOUR the most….Laki-Laki.
Semoga Bermanfaat,
Semoga Bermanfaat,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
TerimaKasih komentar Anda.