Selasa, 10 Februari 2015

Apakah ada Kesetaraan untuk Perempuan ?

Liburan Paradise, Fun, Good Food, & Good Friends, 
Dalam suatu kesempatan ngobrol dengan teman-teman yang kebanyakan laki-laki saat  libur ke Halmahera dengan kapal ‘Liburan Paradise’ , saya melontarkan pertanyaan survey kecil-kecilan, kebetulan baru selesai baca buku yang cukup provokatif untuk perempuan ‘Lean In’-nya Sheryl Sanberg .
Saya bertanya : “apakah kamu ngasih istri-mu kerja ?”  sebetulnya sih aku sudah tahu jawaban yang akan diberikan, karena kalau pertanyaan ini dilontarkan , boleh dikatakan 90% jawaban para suami kurang lebih bernada sama. Tapi saya  tetap saja kecewa mendengarnya. Mungkin saya berharap yang 10% benar-benar memberikan jawaban yang ingin saya dengar.

“Kalau saya ngga mampu (secara financial maksudnya), yach silakan bekerja, tapi semua saya penuhin, ngapa’in lah kerja “
“Boleh sihhh kerja, asal tahu diri mesti bisa bagi waktu jaga anak (atau boleh kerja asal anak & suami jangan ditelantarin..)
“Saya mampu kok membiayai semua kebutuhan RT, tapi kalau tetap ingin kerja silakan, tapi ingat jaga anak” 
OMG, egois banget ngga sih, memberikan pilihan kerja atau tidak kepada istri dengan term & condition. Dan sesungguhnya itu bukan sebuah pilihan yang setara. “Expectations will not be set by gender but by personal passion, talents, and interests.’

Memang sulit, Prof. Joan Williams sebut ‘gender wars’ antara bunda yang kerja diluar dengan yang ngurus domestik, karena adanya social ideals: The ideal worker is defines as someone always available for work, and the ‘good mother’ is defined as always available to her children. So ideal-worker women need to prove that. So you have each group of women judging the other.

Woman Can't Read Map 

Norma dalam masyarakat (jangankan disini, si mba Sheryl sebagai COO facebook di Amrik saja merasakan), bahwa ada ketidak-setaraan untuk bunda yang bekerja, terutama ketika berurusan dengan kehamilan, melahirkan dan mengurus anak. Perempuan yang lebih sibuk bekerja tetap sulit diterima. Laki-laki yang ngurus rumah juga sulit diterima. Maka issue-nya bukan pada feminisme pekerjaan-karir, tapi feminisme dalam berumah-tangga. Adanya rasa bebas, bukan rasa bersalah ketika tidak bisa mengambil rapor anak, tidak dicibir sebagai Ibu yang tidak becus ngurus anak, semakin tinggi posisi perempuan dalam karir kepemimpinan semakin berat beban sosial tersebut. Rasa & tanggung jawab yang demikian tidak ada pada level pucuk pimpinan manapun untuk laki-laki.

Maka jawaban para bangsa suami di atas, semestinya tidak boleh ada term & condition.  

Saya pikir, pemikiran  yang mungkin cukup berbahaya pada feminisme dalam berumah tangga untuk para perempuan, adalah pilihan untuk membentuk keluarga dengan sesama  perempuan. Pilihan ini mengeliminasi peran gender dan patriarkhi, peran dalam rumah tangga menjadi  berimbang dalam mengurus keluarga dan domestik. Aih…betapa bahaya pemikiran ini.

Sheryl menulis dan berharap : true equality is long overdue and will be achieved only when more women rise to the top of every government and every industry. Then we have to do the hard work of getting there. …… Until women have supportive employers and colleagues as well as partners who share family responsibilities, they don’t have real choice. And until men are fully respected for contributing inside the home, they don’t have real choice either. Equal opportunity is not equal unless everyone receives the encouragement that makes seizing those opportunities possible.

Saya pribadi mendukung harapan tersebut tapi amat tidak yakin bisa dalam abad ini. Sebagai penganut iman katolik, saya taat absolut bahwa jabatan Paus apostolik dari rasul Petrus ber-gender “laki-laki’ ; saya juga taat absolut  perayaan Ekaristi hanya dipersembahkan Imam ‘laki-laki’. Bahkan mungkin kalau ada biarawati yang ingin mengubah tradisi ketaatan ini, saya pasti jadi barisan yang membela ‘ketaatan absolut ini’. Lagi pula sebebas apapun saya menulis, saya ‘tunduk’ pada suami (as Bible said)

Tribute to all, my  ‘Male’ friends.
Special to Top FOUR  the most….Laki-Laki. 
Semoga Bermanfaat, 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TerimaKasih komentar Anda.